BRMP Aceh Gencarkan Penerapan PM-AAS untuk Tingkatkan Produktivitas Padi di Simeulue
Simeulue — Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Aceh memperkuat pendampingan penerapan Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kabupaten Simeulue sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas padi dan memperkuat keberlanjutan produksi pangan di daerah.
Pendampingan dan sosialisasi PM-AAS dilaksanakan di Kecamatan Teupah Tengah, Kabupaten Simeulue, pada Selasa, 15 September 2026, dengan melibatkan Pemerintah Kabupaten Simeulue, jajaran Dinas Pertanian dan Pangan, Dinas PUPR, Badan Pusat Statistik (BPS), koordinator penyuluh pertanian, penyuluh, serta petani.
Kepala BRMP Aceh, Firdaus, mengatakan penerapan PM-AAS merupakan bagian dari langkah lanjutan setelah pencapaian swasembada pangan yang didorong melalui program strategis Kementerian Pertanian.
“Program strategis Kementerian Pertanian sudah berhasil mendorong swasembada pangan pada akhir tahun 2025. Sekarang kita lanjutkan dengan peningkatan kesejahteraan petani melalui peningkatan produktivitas padi,” ujar Firdaus.
Menurutnya, pendekatan pertanian modern melalui PM-AAS diharapkan dapat mendorong peningkatan produktivitas secara signifikan. Penerapan teknologi tersebut ditargetkan mampu meningkatkan produktivitas padi hingga sekitar 40 persen, dengan hasil yang mendekati 10 ton per hektare.
Namun, Firdaus menekankan bahwa peningkatan produktivitas tidak hanya bergantung pada teknologi budidaya. Keberhasilan PM-AAS juga membutuhkan dukungan pemerintah daerah, penyuluh, dan petani melalui pendampingan yang konsisten di lapangan.
“Dengan menggunakan teknologi PM-AAS, produktivitas padi diharapkan dapat meningkat hingga sekitar 40 persen dan mendekati 10 ton per hektare,” jelasnya.
Dukungan terhadap penerapan teknologi pertanian modern juga datang dari Pemerintah Kabupaten Simeulue, khususnya dalam penyediaan infrastruktur pendukung produksi.
Kepala Dinas PUPR Kabupaten Simeulue, Samsuar, menyampaikan komitmen pemerintah daerah untuk memperbaiki jaringan irigasi guna mendukung kebutuhan air bagi lahan pertanian.
“Seluruh jaringan irigasi, baik tersier maupun sekunder, akan kita rehabilitasi pada tahun ini,” kata Samsuar.
Selain rehabilitasi jaringan irigasi, pemerintah daerah juga membuka dukungan melalui pembangunan sumur bor dan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT), terutama bagi wilayah yang menghadapi keterbatasan sumber air.
“Bantuan sumur bor dan JIAT masih tersedia. Silakan para penyuluh melakukan CPCL untuk membantu petani memenuhi kebutuhan air sawahnya,” ujarnya.
Ketersediaan air menjadi salah satu faktor penting dalam penerapan budidaya modern. Karena itu, penguatan infrastruktur irigasi diharapkan dapat mendukung penerapan teknologi PM-AAS agar berjalan lebih optimal di tingkat petani.
Sementara itu, Kepala BPS Kabupaten Simeulue, Tsamirfuadi, menyampaikan dukungan terhadap kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat program pembangunan pertanian di daerah.
“Kita bersama-sama dengan Kementerian Pertanian untuk mendorong dan mendukung program Kementerian Pertanian menuju swasembada pangan yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Sinergi antara BRMP Aceh, Pemerintah Kabupaten Simeulue, BPS, Dinas PUPR, Dinas Pertanian dan Pangan, penyuluh, serta petani menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pertanian yang mendukung peningkatan produktivitas.
Melalui pendampingan yang berkelanjutan, penerapan PM-AAS di Simeulue diharapkan tidak hanya meningkatkan hasil produksi padi, tetapi juga mendorong efisiensi usaha tani dan memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan petani.
Penguatan teknologi budidaya, dukungan infrastruktur, serta kolaborasi lintas sektor menjadi tiga unsur yang perlu berjalan beriringan agar peningkatan produktivitas pertanian dapat berlangsung secara berkelanjutan.